0

Multilevel Class

Salam Bapak dan Ibu guru maupun calon guru. Saya ingin berbagi pengalaman saya bekerja di SD internasional. Banyak hal yang berbeda di sekolah internasional dengan sekolah di negeri ini. Mohon koreksi saya bila saya salah.

Saya mengajar kelas 3-4 yang digabung dalam satu kelas bernama kelas Bali. Semua kelas di sekolah ini adalah multilevel class dimana dalam satu kelas terdapat 2 level. Kelas 1-2, 3-4 dan 5-6. Multilevel class sangat biasa diterapkan di negara-negara maju maupun berkembang. Kepala sekolah saya pernah berkata, “we don’t teach level. We teach children.“ Yang saya tangkap adalah, kami tidak kaku dalam mendidik murid kami berdasarkan level, di mana anak-anak di suatu kelas diajarkan materi yang sama rata. Tidak semua anak dalam satu kelas mampu mencapai standar yang kita beri. Sebagian di antara mereka bahkan melampauinya teramat jauh. Ini adalah tantangan guru untuk dapat mengatur materi sesuai yang tiap anak butuhkan. Kami diberi kebebasan dalam memberikan materi sesuai kemampuan dan kebutuhan anak. Menantang anak-anak dengan materi yang lebih tapi juga memberi materi standar pada anak-anak yang kurang cemerlang. Salah satu keuntungan dalam penerapan multilevel class adalah ketika kita menemukan anak-anak cemerlang, guru bisa memberikan materi yang sama dengan level di atas mereka. Misalnya seorang anak kelas 3 SD bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan kepada kelas 4, maka dengan mudah guru bisa memberinya materi kelas 4. Hal ini biasa terjadi di kelas kami, terutama dalam pelajaran matematika.

“Bagaimana bisa? Di sekolah biasa susah banget menerapkan sistem kayak gitu. Satu level saja jumlahnya bisa 20 anak lebih, apalagi 2 level.” Hehe. Mungkin pemerintah perlu menambah jumlah guru bila ingin memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik untuk penerus bangsa ini. Hal lain yang membedakan sekolah kami adalah kami tidak menggunakan angka untuk nilai. Ingat K13 yang membuat guru pusing menulis rapot? Penilaian akademik anak secara deskripsi, kualitatif? IPC sudah jauh lebih dulu menggunakan sistem evaluasi dan laporan akademik yang K13 gunakan. Wajar saja karena saya dengar K13 terinspirasi dari kurikulum internasional atau yang kami kenal IPC (International Primary Curriculum). IPC adalah kurikulum yang digunakan oleh banyak SD internasional bahkan nasional di dunia. Kurikulum ini dibuat berdasarkan berbagai kurikulum dari beberapa negara, seingat saya yaitu kurikulum Amerika, Inggris, Australia, Singapura, dan Belanda.

Di kelas, kami memberi materi standar yang sama pada semua anak tapi ketika sebagian anak menguasai materi lebih dari teman-temannya maka kami pun memberi dia tantangan lebih begitu juga sebaliknya. Hal itu tidak menjadi masalah karena setiap anak unggul dalam bidang yang berbeda. Dengan tidak adanya nilai atau skor, anak tidak fokus pada kata kompetisi tetapi fokus terhadap pengembangan diri masing-masing. Tidak ada rasa minder dengan teman, apalagi merasa lebih bisa dibanding yang lain. Sungguh suasana kelas yang indah untuk belajar yang tentunya juga beriringan dengan pembentukan karakter anak yang baik.

Sampai di sini dulu tulisan saya, silakan koreksi dan beri saya masukan untuk membuat tulisan ini lebih baik.

Cheers

Advertisements
0

IPC Summer School 2014 (3)

Hallo,

Di hari Jumat yang mendung dan super basah ini alias banjir, saya memilih menyibukkan diri dengan menulis blog. Hehehe. Cucian mah nanti aja.

Okay, IPC summer school di Malaysia pada hari ke tiga saya awali dengan datang terlambat ke tempat training karena salah lihat jam. Mestinya saya lihat jam di jam tangan yang sudah saya atur, bukannya jam yang ada di HP saya. Pagi itu teman saya sudah ketok pintu berkali-kali tapi sepertinya saya sedang mandi jadi tidak tahu dan dia pun meninggalkan saya. Teman saya yang satunya tidak ikut training hari itu karena beliau harus pulang, maklum ibu beranak 3. Saya check out, pesan taxi dan langsung ke tempat training, Nexus International School. Dari tempat penginapan di KL sampai ke Putrajaya memakan waktu sekitar 25 menit dengan taxi. Taxi di sana sangat mahal, waktu itu saya mesti bayar 80RM atau sekitar Rp 250.000. Di mobil, mas sopir yang menurut saya keturunan india ini cukup banyak bicara dan bertanya dalam bahasa melayu (“cekgu, nak cakap bahasa melayu boleh?”). Sebenarnya saya agak merasa horor kalau naik taxi sendiri (kan saya princessnya papah, cin. Ntar kalau diculik gimana. XD). Lalu sampailah saya di sekolah Nexus dengan membawa koper besar menuju lantai 3, Alhamdulillah ada lift. Di hari ke 3 saya belajar tentang assessing bersama teman bule saya, ibu El. Training hari itu diberikan oleh Bapak Thomas Waldron (guru kelas 1 SD dan IPC coordinator di Beacon Academy, Jakarta) dan pak Neil Corrigan (guru kelas 6 di Jumeriah Primary School, Dubai). Gaya bicara mereka sangat berbeda, pak Thomas lemah lembut dan mudah dipahami sedangkan pak Neil cepat dan sangat bersemangat, yang menurut saya membuat saya semangat juga. Sebelum pak Neil mulai materi, beliau memberi kami ice breaker.

Bapak ibu guru, ada berbagai macam icebreaker yang bisa bapak ibu dapat dengan mudah di internet. Menurut saya, Icebreaker sangat bermanfaat untuk memulai pelajaran dengan anak-anak, terutama kelas baru. Anak-anak bisa lebih ceria sehingga mereka tidak terlalu tegang di kelas dan pelajaran pun lebih mudah dicerna oleh anak-anak. Mungkin link ini bisa memberi bapak ibu ide tentang icebreaker yang cocok untuk anak. Icebreaker juga bisa disisipi sedikit materi pelajaran sehingga anak bisa brainstorm dan lebih siap menerima pelajaran.

http://www.icebreakers.ws/classroom-icebreakers

http://www.educationworld.com/back_to_school/

Kembali ke training, pak Neil meminta kami untuk berdiri dan membentuk grup dari 3 orang, lalu kami diminta mencari persamaan diantara kami bertiga. Di grup saya, kami sama-sama suka olahraga. Lalu, kami diminta untuk membuat grup lagi dengan orang yang berbeda dan melakukan hal yang sama, mencari persamaan. Pak Neil bilang, melalui kegiatan itu kita tahu bahwa kita tetap punya kesamaan walaupun datang dari mancanegara.

Pak Neil membawa buku-buku murid beliau dan beberapa display kelasnya. Cara menilai hasil kerja anak pada IPC jelas berbeda dengan kurikulum kita dimana skor/angka adalah segalanya. Di IPC, anak bisa mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri dengan menggunakan rubrik anak, lalu guru memberi penilaian dengan rubrik guru. Tentunya penggunaan bahasa di kedua rubrik tersebut berbeda, pada rubrik anak bahasanya lebih ringan dan mudah dipahami. Berikut ini beberapa contoh yang dibawa pak Neil.

(nyusul, lagi dicari)

Training hari itu kalau tidak salah selesai jam 3. Saya dan banyak anggota training lainnya menunggu taxi menuju destinasi masing-masing. Taxi di Malaysia sangat berbeda sistemnya dengan taxi di negara kita. Di sana, taxi hanya melayani area mereka sendiri. Saya minta diantar ke KL Sentral di KL tapi si sopir menolak alasannya itu bukan rutenya dan terlalu jauh. Akhirnya saya minta diantar di stasiun KTM terdekat. Di sana saya naik train (mereka sebut itu untuk kereta, dan kereta adalah sebutan untuk mobil) menuju KL Sentral, dimana saya akan naik kereta menuju Singapura jam 10 malam. Sampai di KL sentral jam 5 sore. Saya memutuskan untuk tetap di stasiun. Tukar uang SGD, makan, keliling tidak jelas di kios-kios oleh-oleh dan nongkrong di mushola yang penuh sampai isya.
Saya mampir dulu di kios ini, Laparrr…

Salah satu warung di stasiun

Salah satu warung di stasiun

Lumayan enak dan cocok di lidah saya.

Nasi, telur, kari, sambal dan kacang

Nasi, telur, kari, sambal dan kacang

Setelah itu saya ke lantai 2 (kayaknya sih) dan menunggu kereta sambil baca buku yang sudah hampir habis saya baca. Lain kali mungkin saya perlu bawa buku 2. Tiket kereta sudah dibelikan bu expat saya yang baik, bahkan hal-hal di Singapura sudah dipesankan dan dibiayai. OmA, baik banget deh pokoknya, Alhamdulillah. Finally, Heading to Singapore.

Baiklah, lain kali saya update tulisan saya karena tidak semua tersampaikan. Perjalanan saya di Singapura akan saya rangkum di artikel selanjutnya. See you…

0

Mosaic ECA

Hai hai…

Pernahkah kalian membuat mozaik? I’m in love with this craft! Mozaik adalah karya seni dengan menggabungkan dan menempelkan pecahan atau potongan dan disusun sedemikian rupa sehingga menjadi karya seni yang indah, menurut saya. 😀

Di term 3 ini jatah saya mengisi ECA alias ekstrakulikuler dan saya memilih mosaic. Saya tidak sabar ingin mencoba banyak jenis mosaic bersama anak-anak dan berharap kelas besar yang ikutan. Tapi, ternyata anak-anak kindergarten yang lebih tertarik. Tidak apa-apa, yang penting tidak lebih dari 15 anak. Horor cin… sulit membuat beberapa anak duduk tenang.

Setelah googling untuk mendapatkan ide-ide creatif. Saya memutuskan untuk membuat mosaic dari berbagai macam bahan mulai yang termudah yaitu kertas. So, these are what we did.

Pertemuan I
Saya mulai dengan yang paling mudah. Bahan yang dibutuhkan:
1. Kertas putih
2. Potongan kertas warna-warni
3. Lem kertas

Yang laki saya kasih gambar perahu

Yang laki saya kasih gambar perahu

Yang perempuan saya kasih gambar kupu-kupu dkk

Yang perempuan saya kasih gambar kupu-kupu dkk

Pertemuan II
Membuat mosaic dengan biji-bijian. Saya baru saja menemukan masalah di sini. Beberapa hari ini lemari anak banyak semut. Saya baru sadar kalau itu dari mosaic biji yang kami buat and you know what happened? Some of the sticky rice was gone. Ketan yang saya pakai untuk mosaic hilang, saudara. Ternyata dimakan semut. Adooouuuhh…tahu begitu saya kasih ke anak-anak langsung. Saya baru tahu 1 minggu kemudian. -___-
Bahan yang dibutuhkan:
1. Kertas hitam
2. Biji ketan, kedelai, kacang hijau dan kacang merah.
3. Lem PVA atau lem fox

yang perempuan saya kasih gambar bunga. Gambar bunga putihnya pudar karena dimakan semut. huhu

yang perempuan saya kasih gambar bunga. Gambar bunga putihnya pudar karena dimakan semut. huhu

Yang laki saya kasih gambar ayam jago.

Yang laki saya kasih gambar ayam jago.

Pertemuan III
Kami hanya menyelesaikan pekerjaan di pertemuan ke 1 dan 2.

Pertemuan IV
Bertepatan dengan hari valentine minggu itu. Anak-anak membuat kartu ucapan untuk orang tua. Kali ini bagi saya sedikit lebih menggairahkan karena menggunakan manik-manik yang blinky gitu. Hehehe. Please, have a look. They’re gorgeous, right? Absolutely gorgeous and so original. They made it with their little hands. So cute :* Nice work, kiddos!

So original!

So original!

image_1

Love it!

Love it!

They write a message to their parents or siblings.

They write a message to their parents or siblings.

They seem enjoy it.

They seem enjoy it.

Next week kami akan membuat frame foto yang dihiasi mosaic dari CD.

0

ISA (International Schools’ Assessment)

Hello everyone..

Saya sedang di kelas ketika anak-anak istirahat setelah mengerjakan ISA. Jadi saya ingin cerita sedikit tentang tes ISA sejauh yang saya tahu. Mungkin ada yang bertanya bagaimana murid-murid di SD internasional dievaluasi, dengan label internasional pastinya aneh bila menggunakan sistem evaluasi UN (ujian nasional), dan bagaimana kita mengetahui kemampuan anak didik di SD internasional dibandingkan murid-murid di sekolah internasional lainnya. Jawabanya adalah ISA, ISA adalah sistem evaluasi untuk anak-anak sekolah internasional. Tes ini dipakai oleh murid kelas 3-10. Nantinya anak-anak akan diberi raport hasil ISA yang mana orang tua bisa tau nilai anak dan membandingkannya dengan nilai rata-rata seluruh hasil tes ISA sekolah internasional yang mengikuti tes ini. Untuk tahu lebih jelasnya silakan baca di http://www.acer.edu.au/isa.

Murid-murid kami melangsungkan tes ISA tanggal 10 dan 12 Februari 2015. Tes ini berupa tes menulis, literasi matematika, literasi IPA dan membaca. Tes ini tidak wajib, beberapa anak tidak mengikuti dengan berbagai alasan, ada yang belum sanggup alias terlalu sulit, ada juga yang merasa tidak memerlukan tes ISA karena akan melanjutkan ke sekolah nasional. Sama halnya dengan UN, murid-murid kami tidak wajib mengikuti UN, hanya beberapa anak yang ingin melanjutkan sekolah di sekolah nasional, itupun mereka disarankan mengikuti pelajaran tambahan tentang materi UN di luar jam sekolah.

Saya tidak bisa memberi foto kali ini atau contoh soal ISA, karena tes tersebut sangat rahasia dan tidak boleh dipublikasikan. Hehe..Oke. sampai jumpa lagi

Cheers

0

IPC Summer School 2014 (2)

Hello everyone!

Di hari Minggu yang cerah panas ini saya sengaja tidak tidur siang seperti yang saya biasa lakukan di akhir pekan karena saya ingin tidur malam lebih awal dan bangun malam. Oleh karena itu saya putuskan untuk melanjutkan tulisan saya tentang IPC training (2).

Okay, now what I can tell here. Di hari ke dua, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat sekolah Nexus yang dipandu oleh anak-anak kelas 6. Kami diperbolehkan masuk ke kelas-kelas di mana saat itu sedang ada kegiatan pembelajaran. Sekolah ini memang luar biasa besarnya dan mewahnya. Banyak sekali fasilitasnya. Bahkan lapangan sepak bola yang luas bangeettt… Kolam renang, lapangan tenis, lapangan indoor, bahkan mereka punya ruang untuk green screen. Banyak sekali. Penggunaan IPC di sekolah ini pun sudah sampai level mastery di mana kinerja guru-guru di sana mungkin sudah 3x kinerja kami. Anak-anaknya sangat percaya diri dan tenang juga pandai menjelaskan kegiatan bahkan unit yang sedang dilaksanan oleh kelas-kelas yang kami kunjungi saat itu. Mereka juga bisa menjelaskan display boards yang terpampang di tembok-tembok sekolah.

Kolam renang Nexus

Kolam renang Nexus

Kantin sekolah, aslinya lebih besar

Kantin sekolah, aslinya lebih besar

IMG_0158

Salah satu hal yang paling saya sukai pada IPC adalah display. Sangat penting memajang hasil karya murid-murid kita. Mereka jadi merasa bangga dan senang karena karya mereka dipertontonkan. tentunya itu juga memacu mereka untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Bukan hanya itu, dengan memajang hasil karya anak, murid-murid yang lain pun akan termotivasi dan mendapatkan ilmu sekilas dari karya-karya tersebut.

lukisan di tembok Nexus International school

lukisan di tembok Nexus International school

Display bisa berupa foto kegiatan anak-anak. Lalu dihias oleh guru. Ada efek 3D di sini. Cool, right?!

Display bisa berupa foto kegiatan anak-anak. Lalu dihias oleh guru. Ada efek 3D di sini. Cool, right?!

Salah satu display ekskul

Salah satu display ekskul

Kapan-kapan akan saya upload foto-foto display yang lain untuk inspirasi bapak ibu guru. 😉

Hari ke dua training IPC selesai pada pukul 3 sore waktu setempat. Di Malaysia 1 jam lebih cepat. Selesai training kami diajak ke hotel untuk acara ramah tamah. Kalau tidak salah namanya Skyline bar. Di sana disuguhi makanan yang rasanya asyik dan unik. Seperti biasa para bule disuguhi anggur dan bir.

cola dan makanan macem sushi dll yang datang bertubi-tubi sampai kenyang

cola dan makanan macem sushi dll yang datang bertubi-tubi sampai kenyang

Saya cukup jus jeruk dan cola. Di sana teman saya bertemu stranger yang punya tato Maori di tangannya, mulailah kami ngobrol dengan si bapak ganteng yang lucu abis. Saya tidak mengajaknya ngobrol sih, cuma nonton lawakannya saja. Dari jendela yang besar bar, kita bisa melihat Malaysia twin towers dengan jelas. Guru-guru yang dari Yogya sibuk foto-foto. Tapi saya malas dan tidak tertarik. Entah kenapa saya benar-benar tidak tertarik dan tidak memanfaatkan kesempatan di Malaysia. Haha. Saya cuma menikmati hal-hal baru yang saya temui di sana, cukup kagum dengan pencapaian Malaysia yang mana membuat saya melas dengan negara sendiri. Rasanya ingin ajak guru-guru Indonesia ke sana dan training untuk jadi guru yang less boring.

Setelah selesai dari acara ramah tamah. Kami bertiga naik taxi menuju Chinatown. I know, it’s everywhere and you’ll find the same Chinese stuffs just like in here. Meskipun begitu, saya tetap suka jalan-jalan dan mencari cinderamata dari malaysia. Yang murah aja yah, seperti kaos untuk adik-adik saya dan gantungan kunci. Cukup! Saya mesti hemat karena saya masih akan mengunjungi Singapura setelah itu.

Okay deh, itu dulu yang bisa saya bagikan. Maaf kalau cuma sedikit informasi dan sisanya cuma curhat. Hehehe

Cheers

0

IPC Summer School 2014 (1)

Hai semua,

Selamat datang di blog saya. Saya, kali ini ingin berbagi cerita tentang kesempatan yang sekolah berikan kepada saya pada bulan Maret 2014. Di mana kesempatan itu datang di bulan Februari. Bulan yang cukup berat bagi saya saat itu karena di bulan itu untuk pertama kalinya saya berpisah dengan sahabat saya, Boglenk Heni, untuk bekerja di Batam selama dua tahun. Mimpi-mimpi kami untuk jalan-jalan keluar negeri saat itu langsung tak tampak lagi. Mengapa dia begitu spesial. Dia perempuan tomboy satu-satunya yang membuat saya mengenal dunia sejak kelas dua SMA. Hahaha…lebay banget cyiin. Tapi memang cuma dia yang bikin saya secara tidak sadar menunjukkan wujud asli saya yaitu dari miss kalem pendiam menjadi miss cerewet dan pencilakan. Tapi, Allah punya rencana yang lebih indah dengan datangnya kesempatan ini, saya dan sohib bisa berjumpa di luar negeri, cuma Singapura sih tapi Alhamdulillah.

Hari itu kalau tidak salah hari Selasa, kepala sekolah datang menemui saya di kelas dan menawari saya untuk mengikuti training IPC di Malaysia tanggal 5 maret 2014. Ingin tahu lebih tentang IPC? Silakan kunjungi

http://www.greatlearning.com
dan ini link training saya
http://www.greatlearning.com/info/southeast-asia-summer-school-2014/

Tentu saya jawab saya bersedia. Lalu mulailah saya membuat passport, ijin meniggalkan kelas plus mendadak meriang. Jadi saya meninggalkan anak-anak 2 hari. Guru expat sering mengirim foto anak-anak dan video mereka. Katanya, mereka kangen dan minta direkam terus dikirim ke whatsup. Sungguh mengharukan mengetahui mereka merindukan saya, padahal saya lebih kangen mereka. Ketika meriang di hari pengambilan passport, yang rencananya ijin setengah hari, saya terpaksa langsung pulang dan ijin istirahat di rumah. Anak-anak pun berulah minta di foto macam ini:

kids' attention

kids’ attention

Begitu juga video dan masih banyak foto dan cerita tentang T dan kawan-kawan.

Selesai passport dibuat, mulailah booking ini itu untuk tanggal 4-9. Saya berangkat dengan 2 guru expat menggunakan pesawat maskapai G dari Semarang – Jakarta – Kuala Lumpur. Berangkat dari sekolah jam 12 siang, meninggalkan anak-anak yang mengeluh “now everything will be different without Ms. Sari”, cukup berat tapi ini tugas untuk menjadikan guru yang lebih baik. Mereka beri saya surat, begitu juga bu expat saya yang baik, membawakan 3 coklat Delfi buat ngemil di pesawat.

Beberapa foto surat yang anak-anak dan bu expat buat untuk saya:

Dibuat oleh Nic

Dibuat oleh Nic

Surat dari anak-anak dan Gambar anak di kursi roda itu kapan-kapan saya ceritakan.

Surat dari anak-anak dan Gambar anak di kursi roda itu kapan-kapan saya ceritakan.

Welcome to KL

Welcome to KL

Sesampainya di KL, kami bertiga naik taxi menuju tempat penginapan yang sudah dipesankan. Di sana sambutannya bagi kami bikin ngekek sebel. Pertama diminta deposit yang mana kami tidak tahu hal itu sebelumnya. Ke dua, mbak resepsionis mukanya berubah jadi jutek dan menelepon bosnya dengan bahasa tiongkok. Ke tiga, ketika teman saya bertanya apakah kami dapat sarapan, dia menjawab tidak, the room is fully furnished. Teman saya menjawab, oh itu sangat membantu (sarcastic). Hahaha. Saya lupa nama hotelnya. Bentuknya sebenarnya seperti apartemen karena ada dapur lengkap dengan peralatan masak, tempat meeting, kamar, kamar mandi dan ruang tamu beserta sofa juga Plasma TV. Bagi saya sangat nyaman dan betah. Saya tidak tertarik jalan-jalan karena capek dan jauh dari tempat wisata. Kemana-mana mesti pakai taxi yang harganya juga amit-amit.

Melepas penat training dengan ngemil dan nonton acara TV Malaysia

Melepas penat training dengan ngemil dan nonton acara TV Malaysia

Training cuma selama 3 hari tapi saya mampir Singapura dan pulang hari Minggu tgl 9 Maret 2014. Sebenarnya training ini lebih cocok untuk guru expat karena mereka yang bertugas mengajar IPC. Tetapi, sekali lagi saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekolah ingin saya mendapat training IPC. Saya disarankan kepala sekolah untuk mengikuti kelas:
http://www.greatlearning.com/info/southeast-asia-summer-school-2014/beginner-courses
dan
http://www.greatlearning.com/info/southeast-asia-summer-school-2014/developing-courses

Hari pertama, Rabu, 5 Maret 2014

Hari pertama, Rabu, 5 Maret 2014

Opening

Opening

Diskusi dengan guru-guru yang datang dari mancanegara. Bertemu 3 guru dari Yogyakarta juga. Maaf proyek Melodi ikut. Hehe

Diskusi dengan guru-guru yang datang dari mancanegara. Bertemu 3 guru dari Yogyakarta juga. Maaf proyek Melodi ikut. Hehe

Semua itu hal yang sangat baru bagi saya karena selama kuliah bahkan belum pernah mendengar apa itu IPC. Di sana saya layaknya mahasiswa baru yang dijejali materi baru oleh IPC trainers yang semuanya native english speakers dari jam 8 sampai jam 4 sore. Memang luar biasa para trainer ini sangat menguasai bidang mereka. Kepala saya terasa overloaded dengan semua itu. Tapi saya tetap berusaha mencerna materi para trainer ini karena sekolah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk kami bertiga. Biaya pendaftarannya saja US$ 700 per orang. Phew…sangat mahal. Tahun ini giliran bu expat saya yang berangkat, di bulan yang sama, Maret dan di tempat yang sama Nexus International School, Putrajaya.

Baiklah, mungkin cukup sampai di sini cerita saya untuk IPC training (1). Bersambung ya…

Cheers

0

Manajemen Kelas

Swadikha…

Setelah membaca definisi Class management dari banyak sumber, menurut saya Manajemen kelas adalah cara guru mengatur materi pembelajaran, waktu, dan tingkah laku anak di dalam kelas agar kegiatan pembelajaran berjalan lancar, efektif dan sesuai tujuan pembelajaran. Masih saya ingat bagaimana manajemen kelas guru SD saya. Salah satunya ketika murid tidak mengerjakan PR. Sebagai hukumannya, kami harus menulis di buku yang menyatakan bahwa kami tidak mengerjakan PR, lalu kami harus mintakan tanda tangan orang tua kami. Biasanya saya tidak mengerjakan PR karena lupa. hehe. Saya termasuk anak yang rajin dan suka sekolah. Anyway, menurut saya, hukuman yang guru saya berikan itu cukup bagus karena orang tua bisa ikut mengingatkan anak untuk mengerjakan PR. Tapi sayangnya, sebagian anak mengakalinya. Beberapa teman-teman nakal saya mencoba memalsukan tanda tangan orang tua. Sebagian dari mereka ketahuan tapi beberapa kali lolos dari penglihatan guru. what a shame!

Contoh lain ketika pelajaran di sekolah sangat membosankan. Anak-anak pasti mengantuk, mengusir kebosanan dengan mengobrol dengan teman atau bertingkah usil contohnya surat-suratan dengan teman di bangku lain atau menjahili teman. Apa yang guru saya dulu biasa lakukan? berteriak, melempar kapur, memukul meja bahkan pernah teman saya dipanggil lalu dipukul atau dijewer kupingnya. Akhirnya anak memang diam dan tidak berulah, ya berhasil membuat kelas tenang. Tapi apa materi pelajaran bisa anak pahami dengan mudah? Yang ada, anak menjadi tegang dan takut tiap kali guru tersebut mengajar. Berulahnya anak dalam kegiatan pembelajaran tentu berhubungan dengan cara guru mengajar. Bila guru bisa menarik minat anak dalam pembelajaran, pasti mereka mengikuti perintah guru tanpa guru menegur mereka dengan keras atau nada suara tinggi. Ikuti minat mereka terlebih dahulu, hubungkan minat mereka dengan materi yang akan kita ajarkan baru setelah itu, mereka lebih mudah mengikuti pembelajaran yang kita berikan tanpa merasa terpaksa apalagi takut.

Guru-guru saya dulu memang sedikit anarki dan sarkastik. Bahkan ketika saya tidak masuk sekolah karena urusan keluarga, saya ditegur dengan kata-kata yang bagi saya tidak enak. Di sekolah kami, mau bolos 2 minggu pun juga guru tidak peduli, apalagi karena urusan keluarga dimana keputusan tidak masuk sekolah adalah keputusan orang tua. Hmmm….gemes juga kalau ingat masa-masa SD saya. Isinya bully dan pilih kasih. Guru dengan murid sebanyak lebih dari 40 anak di kelas tentunya hanya ingat anak-anak tertentu, misalnya yang paling pintar, yang nakal, yang paling ganteng dan cantik, yang kaya, dan yang paling bodoh saja. Anak yang sedang-sedang saja mungkin lebih sering terlupakan.

Guru-guru jaman sekarang semestinya punya cara yang lebih baik untuk mengatur kelas salah satunya dalam memberi anak konsekuensi. Penting untuk menekankan peraturan kelas dan memberi penjelasan mengapa semua harus menaati aturan yang ada agar jalannya proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif dan tepat waktu sesuai tujuan. Ada banyak ilmu yang dibagikan oleh guru-guru di seluruh dunia melalui blog mereka. Simply google it, teachers.

sebagian besar memang dalam bahasa inggris. hehe.

sebagian besar memang dalam bahasa inggris. hehe.

Ya memang sebagian besar resourches ada dalam bahasa inggris tapi tenang, google kan bisa bahasa indonesia juga.

Di sekolah kami, semua kelas punya 1 manajemen kelas yang sama walau tetap disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak. Anak-anak tahu konsekuensi dari kartu dalam 4 warna yaitu hijau, kuning, oranye dan merah.

Hijau     : baik-baik saja
Kuning  : peringatan pertama, bila sikap membaik maka kartu menjadi hijau lagi
Oranye : peringatan ke dua, harus tinggal di kelas saat istirahat snack
Merah   : peringatan terakhir, harus menemui kepala sekolah

Tiap anak punya 4 kartu. Jadi kalau berulah, guru tinggal bilang “flip your card into yellow!” Konsekuensi tiap warna kartu bisa berubah, terserah guru ingin memberi konsekuensi apa. Yang penting harus jelas dan masuk akal bagi anak. Kalau untuk masalah PR, anak yang tidak mengerjakan PR tinggal dipanggil dan disuruh menyelesaikan PR di kelas ketika jam istirahat.

Ada lagi manajemen kelas yang kami pakai yaitu 5 aturan di kelas.
1. Angkat tangan bila ingin berbicara atau meminta ijin
2. Menghormati semua anggota di kelas
3. Merawat dan menjaga peralatan dari sekolah
4. Melakukan yang terbaik
5. Menjaga kebersihan kelas

Peraturan memang perlu dipajang supaya anak-anak selalu ingat. Ini saya sendiri yang buat. So easy, teachers.

Peraturan/expektasi  di kelas kami pajang di sebelah papan tulis.

Peraturan/expektasi di kelas kami pajang di sebelah papan tulis.

Oh iya, memang membuat display itu memakan waktu dan biaya juga. Di sekolah kami, tiap kelas mendapat budget kelas yang berasal dari setiap anak. Tiap anak mendapat budget kelas selama setahun sebesar Rp 500.000/anak. Ya, biaya sekolah di SD kami memang sangat mahal. Tapi pasti ada cara guru untuk bisa membuat display. Tak perlu mahal, yang penting kreatif dan menonjolkan hasil karya anak.

Kembali lagi ke class management, kita mendorong anak untuk selalu menghormati guru, domestic staff dan teman-teman mereka. Magic words yang selalu kami ingatkan yaitu please, thank you, excuse me dan sorry atau dalam bahasa indonesia tolong, terima kasih, permisi dan maaf. Anak sering lupa memakai kata-kata tersebut, untuk itu kita perlu sering mengingatkan dan menggunakannya sebagai model. Mengingatkan anak untuk selalu sopan sangatlah penting demi pembentukan karakter anak yang baik apalagi dalam penggunaan K13 yang telah menambahkan pendidikan karakter dalam kurikulum. Memang tidak mudah memahami setiap anak lebih dalam bila hanya 1 guru kelas dan lebih dari 30 anak dalam kelas. Di kelas kami hanya ada 15-22 anak per kelas dan 2-3 guru dalam kelas.

Tugas guru di negara kita ini lebih berat dalam hal administrasi dan birokrasi. Guru dibuat sibuk dan lelah sehingga pada akhirnya rencana mengajar yang mereka buat tidak terlaksana seperti mereka susun dalam RPP yang mereka buat, entah itu rencana harian, mingguan atau bahkan tahunan yang mana harus mendapat persetujuan kepala sekolah dan direvisi bila masih dianggap salah. Akhirnya guru memilih dan terbiasa menggunakan buku yang sudah tersedia di pasaran atau cuma mengacu pada buku dari pemerintah yang mana tidak membuat guru kreatif dan memilih cara praktis ini, belum termasuk UN yang membuat guru dan murid tambah kurang kreatif di mana kemampuan hafalan adalah kunci akhir yang murid miliki untuk melewati UN. Itu pendapat saya, mohon dikoreksi.

Bapak ibu guru, alangkah baiknya bila kita tidak terpaku pada penggunaan 1 textbook saja, bukan berarti anak-anak diminta sebanyak yang guru pakai. Coba gunakan media tambahan selain buku, karena jujur saya sendiri pun bosan bila hanya belajar lewat buku.

Pekerjaan saya setelah selesai di sekolah adalah tutoring. Murid saya ada yang dari sekolah negeri dan swasta. Murid les saya sekolah di sekolah swasta yang cukup mahal dan terkenal di kota saya. Tetapi tetap sistem evaluasi mereka sama yaitu hafalan. Setiap kali akan ulangan, orang tua meminta saya untuk drill mereka dengan soal-soal yang ada di buku bahkan mengulang soal-soal yang menjadi pretest. Untuk di sekolah S, sudah lebih baik model evaluasinya karena K13 yang mana multiple choice test sudah dihapus dan soal lebih banyak di essay, itu cukup mengembangkan kreatifitas anak dalam menggunakan bahasa mereka sendiri. Mengevaluasi anak atau assessing, tidak harus formal tertuang di atas kertas, assessing kids can be done through games. So many classroom games we can use to know how deep the kids understand the material. Pernah dengar Cooperative Learning method? Banyak metode dalam cooperative learning yang bisa guru pakai untuk mengetahui seberapa dalam pemahaman anak atau bagian mana yang perlu diulang sebelum memberi anak tes tertulis.

Beberapa materi dalam pelajaran sekolah bisa kita dapatkan dari video, artikel dan gambar di internet, bahkan ada quiz generator, dimana guru bisa membuat soal interaktif (kapan-kapan saya bagikan pengalaman penggunaan aplikasi untuk membuat kuis atau tes). Ya memang kebanyak dari aplikasi tersebut menggunakan bahasa inggris. Salah satu impian saya adalah membuat aplikasi semacam itu dalam bahasa indonesia (mestinya saya kembangkan skripsi saya tentang developing interactive multimedia for teaching, sayangnya teramat sulit bagi saya untuk belajar coding). Penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut memang sebagian besar perlu koneksi internet. Beruntung di sekolah kami ada wifi juga LCD dan laptop di setiap kelas. Kalaupun tidak ada wifi di sekolah, bisa lah pakai modem pribadi, yang murah saja. Memang butuh biaya tapi tidak perlu banyak, apalagi bagi guru-guru sertifikasi yang saya dengar gajinya 2-3x gaji guru non sertifikasi. Sedekahkan sebagian gaji anda untuk membeli LCD dan laptop untuk membuat bahan ajar yang kreatif dan menyenangkan, sungguh anak-anak negeri ini butuh metode pengajaran yang lebih baik. Kita masih tertinggal jauuuhhh sekali dibandingkan dengan negara-negara asing bahkan negara tetangga kita, si M, mungkin memang butuh waktu yang tidak sebentar tapi dengan adanya guru-guru muda, semoga tidak malas berinovasi karena yang tua belum tentu selalu benar. Menjadi berbeda memang sulit tapi berbeda tidak selalu buruk.

Sampai di sini dulu, kapan-kapan saya sambung lagi.

Cheers