0

Pemanfaatan Teknologi di Sekolah

Greeting, teachers.

Saya baru saja selesai menulis blog saya yang sebelumnya. Tiba-tiba saya mendapat pop-up-idea dan membaginya di sini. Hmm…judulnya mengajar dengan teknologi. Teknologi saat ini memang banyak memudahkan kita manusia. Segalanya terasa lebih menarik dengan teknologi. Teknologi kini pun merambah dunia pendidikan yang mana mulai lebih memudahkan guru dalam mengajar dan lebih menarik minat anak dalam belajar.

Saat ini sekolah di Indonesia mulai menambah fasilitas penunjang guru dalam mengajar. Salah satunya adalah projektor. Ya, alat ini layaknya jembatan yang menghubungkan teknologi yang guru sediakan pada komputer agar anak didik dapat menikmatinya pula sehingga mereka tidak terus-menerus disuguhi ceramah guru, papan tulis dan buku catatan. Bukan berarti ketiga hal itu membosankan tetapi dengan porsi yang tepat dikombinasikan dengan penggunaan teknologi, maka anak akan lebih tertarik dalam belajar dan tidak cepat bosan. 😀

Kalau tadi pemanfaatan projektor di sekolah. Kali ini pemanfaatan internet. Sudah banyak sekolah yang memiliki fasilitas wifi yang tentunya semakin memudahkan guru dalam mendapatkan materi dan media pembelajaran yang interaktif di internet terutama bagi guru bahasa inggris. Di sekolah tempat saya bekerja, saya mendapat banyak ilmu dalam mengajar dengan memanfaatkan teknologi. Bekerja bersama para pendidik dari negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia, Kanada dan New Zealand. Salah seorang guru di tempat saya, beliau berasal dari Kanada, adalah seorang guru inovatif yang sangat memaksimalkan teknologi dalam mengajar. Anak-anak kami pun dilatih dalam penggunaan teknologi. Mereka belajar bagaimana berurusan dengan internet dan alat-alat elektronik penunjangnya agar pisau bermata dua ini tetap dapat dimanfaatkan dengan aman dan terkendali.

Langsung saja saya bagikan aplikasi dan website yang sempat kami gunakan di sekolah. Yang pertama adalah website-website gratis yang menyediakan media belajar yang interaktif bagi anak.

1. Sumdog
Sumdog adalah website gratis untuk melatih anak dalam pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Guru bisa mengetahui skor yang dihasilkan setiap anak. Bahkan orang tua juga bisa mengaksesnya. Anak-anak kami sangat mnyukainya. Guru juga bisa mengadakan kompetisi untuk anak-anak. Mereka bahkan bisa beradu dalam permainan. Tidak hanya matematika, website ini juga menyediakan permainan untuk literasi yang tentunya dalam baha inggris.

2. Cool Math Games
Seperti namanya, permainan untuk melatih kemampuan berhitung anak ini memang keren, melatih logika anak dan tidak ada unsur kekerasan. Permainan ini juga gratis tetapi tidak seperti Sumdog, guru tidak bisa mengakses skor setiap anak.

3. Top Marks
Di website ini tersedia permainan untuk matematika, sejarah, geografi dsb yang tentunya dalam bahasa inggris.

4. Kent Woodland Games

5. Zondle
Zondle adalah website yang saya temukan ketika saya mencari permainan dalam bahasa Indonesia untuk mengajar bahasa Indonesia. Di sini, guru bisa membuat soal dan jawaban sendiri dalam bahasa apapun dan pelajaran yang lain pun bisa. Guru juga bisa mengakses aktifitas dan skor anak.

6. MakeBeliefComic
Makebeliefcomic tersedia dalam bentuk aplikasi yang bisa diunduh di Itunes dan Playstore. Menurut saya, aplikasi ini cukup menarik ketika digunakan untuk membuat dialog dan hasilnya bisa diunduh.

7. StuddyLadder
Website ini juga berisi permainan untuk matematika dan bahasa Inggris. Guru juga bisa membuatkan akun untuk anak-anak dan bisa mengakses skor yang anak capai dalam permainan ini.

8. Quill
Website ini menyediakan materi pembelajaran bahasa inggris terutama grammar dan writing skill untuk sekolah menengah pertama ke atas.

9. Englishexercises
Website ini berisi kumpulan soal-soal bahasa inggris interaktif yang dibuat oleh banyak guru di seluruh dunia.

10. Khanacademy
Website ini menyediakan soal-soal interaktif untuk banyak pelajaran. Tentunya dalam bahasa inggris. Guru juga bisa membuatkan akun untuk murid dan bisa mengetahui aktifitas pembelajaran murid.

11. Popplet
Popplet juga tersedia dalam aplikasi di appstore. Di sini kita bisa membuat mind-map, dan website ini menyediakan banyak mind-map dari pengguna Popplet lainnya. Website ini gratis tapi dibatasi. Seingat saya, hanya dapat dipakai untuk membuat 5 mind-map setiap bulan.

12. GoNoodle
Website ini mungkin cocok untuk anak-anak Indonesia setelah penat dengan pelajaran. Guru bisa memilih video yang berisi lagu dan gerakan badan sederhana agar pikiran anak bisa santai dan meregangkan otot sejenak. Cukup 3-5 menit melakukannya, setelah itu anak-anak akan lebih siap untuk kembali menerima pelajaran selanjutnya.

Masih banyak website gratis yang pernah kami gunakan di sekolah tapi mungkin website ini yang menurut saya bisa dicoba oleh guru-guru di Indonesia. Silakan ditambahi bila anda menemukan website lainnya. 😀

Selanjutnya, di bawah ini website-website gratis untuk mengakses worksheet atau soal-soal bahasa inggris yang pernah saya coba.

1. www.englishforeveryone.org
2. www.englishwsheets.com
3. en.islcollective.com
4. busyteacher.org

Demikian tulisan saya kali ini. Semoga bermanfaat dan silakan memberi koreksi dan masukan untuk tulisan saya. 😉

Advertisements
0

Multilevel Class

Salam Bapak dan Ibu guru maupun calon guru. Saya ingin berbagi pengalaman saya bekerja di SD internasional. Banyak hal yang berbeda di sekolah internasional dengan sekolah di negeri ini. Mohon koreksi saya bila saya salah.

Saya mengajar kelas 3-4 yang digabung dalam satu kelas bernama kelas Bali. Semua kelas di sekolah ini adalah multilevel class dimana dalam satu kelas terdapat 2 level. Kelas 1-2, 3-4 dan 5-6. Multilevel class sangat biasa diterapkan di negara-negara maju maupun berkembang. Kepala sekolah saya pernah berkata, “we don’t teach level. We teach children.“ Yang saya tangkap adalah, kami tidak kaku dalam mendidik murid kami berdasarkan level, di mana anak-anak di suatu kelas diajarkan materi yang sama rata. Tidak semua anak dalam satu kelas mampu mencapai standar yang kita beri. Sebagian di antara mereka bahkan melampauinya teramat jauh. Ini adalah tantangan guru untuk dapat mengatur materi sesuai yang tiap anak butuhkan. Kami diberi kebebasan dalam memberikan materi sesuai kemampuan dan kebutuhan anak. Menantang anak-anak dengan materi yang lebih tapi juga memberi materi standar pada anak-anak yang kurang cemerlang. Salah satu keuntungan dalam penerapan multilevel class adalah ketika kita menemukan anak-anak cemerlang, guru bisa memberikan materi yang sama dengan level di atas mereka. Misalnya seorang anak kelas 3 SD bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan kepada kelas 4, maka dengan mudah guru bisa memberinya materi kelas 4. Hal ini biasa terjadi di kelas kami, terutama dalam pelajaran matematika.

“Bagaimana bisa? Di sekolah biasa susah banget menerapkan sistem kayak gitu. Satu level saja jumlahnya bisa 20 anak lebih, apalagi 2 level.” Hehe. Mungkin pemerintah perlu menambah jumlah guru bila ingin memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik untuk penerus bangsa ini. Hal lain yang membedakan sekolah kami adalah kami tidak menggunakan angka untuk nilai. Ingat K13 yang membuat guru pusing menulis rapot? Penilaian akademik anak secara deskripsi, kualitatif? IPC sudah jauh lebih dulu menggunakan sistem evaluasi dan laporan akademik yang K13 gunakan. Wajar saja karena saya dengar K13 terinspirasi dari kurikulum internasional atau yang kami kenal IPC (International Primary Curriculum). IPC adalah kurikulum yang digunakan oleh banyak SD internasional bahkan nasional di dunia. Kurikulum ini dibuat berdasarkan berbagai kurikulum dari beberapa negara, seingat saya yaitu kurikulum Amerika, Inggris, Australia, Singapura, dan Belanda.

Di kelas, kami memberi materi standar yang sama pada semua anak tapi ketika sebagian anak menguasai materi lebih dari teman-temannya maka kami pun memberi dia tantangan lebih begitu juga sebaliknya. Hal itu tidak menjadi masalah karena setiap anak unggul dalam bidang yang berbeda. Dengan tidak adanya nilai atau skor, anak tidak fokus pada kata kompetisi tetapi fokus terhadap pengembangan diri masing-masing. Tidak ada rasa minder dengan teman, apalagi merasa lebih bisa dibanding yang lain. Sungguh suasana kelas yang indah untuk belajar yang tentunya juga beriringan dengan pembentukan karakter anak yang baik.

Sampai di sini dulu tulisan saya, silakan koreksi dan beri saya masukan untuk membuat tulisan ini lebih baik.

Cheers

0

Mosaic ECA

Hai hai…

Pernahkah kalian membuat mozaik? I’m in love with this craft! Mozaik adalah karya seni dengan menggabungkan dan menempelkan pecahan atau potongan dan disusun sedemikian rupa sehingga menjadi karya seni yang indah, menurut saya. 😀

Di term 3 ini jatah saya mengisi ECA alias ekstrakulikuler dan saya memilih mosaic. Saya tidak sabar ingin mencoba banyak jenis mosaic bersama anak-anak dan berharap kelas besar yang ikutan. Tapi, ternyata anak-anak kindergarten yang lebih tertarik. Tidak apa-apa, yang penting tidak lebih dari 15 anak. Horor cin… sulit membuat beberapa anak duduk tenang.

Setelah googling untuk mendapatkan ide-ide creatif. Saya memutuskan untuk membuat mosaic dari berbagai macam bahan mulai yang termudah yaitu kertas. So, these are what we did.

Pertemuan I
Saya mulai dengan yang paling mudah. Bahan yang dibutuhkan:
1. Kertas putih
2. Potongan kertas warna-warni
3. Lem kertas

Yang laki saya kasih gambar perahu

Yang laki saya kasih gambar perahu

Yang perempuan saya kasih gambar kupu-kupu dkk

Yang perempuan saya kasih gambar kupu-kupu dkk

Pertemuan II
Membuat mosaic dengan biji-bijian. Saya baru saja menemukan masalah di sini. Beberapa hari ini lemari anak banyak semut. Saya baru sadar kalau itu dari mosaic biji yang kami buat and you know what happened? Some of the sticky rice was gone. Ketan yang saya pakai untuk mosaic hilang, saudara. Ternyata dimakan semut. Adooouuuhh…tahu begitu saya kasih ke anak-anak langsung. Saya baru tahu 1 minggu kemudian. -___-
Bahan yang dibutuhkan:
1. Kertas hitam
2. Biji ketan, kedelai, kacang hijau dan kacang merah.
3. Lem PVA atau lem fox

yang perempuan saya kasih gambar bunga. Gambar bunga putihnya pudar karena dimakan semut. huhu

yang perempuan saya kasih gambar bunga. Gambar bunga putihnya pudar karena dimakan semut. huhu

Yang laki saya kasih gambar ayam jago.

Yang laki saya kasih gambar ayam jago.

Pertemuan III
Kami hanya menyelesaikan pekerjaan di pertemuan ke 1 dan 2.

Pertemuan IV
Bertepatan dengan hari valentine minggu itu. Anak-anak membuat kartu ucapan untuk orang tua. Kali ini bagi saya sedikit lebih menggairahkan karena menggunakan manik-manik yang blinky gitu. Hehehe. Please, have a look. They’re gorgeous, right? Absolutely gorgeous and so original. They made it with their little hands. So cute :* Nice work, kiddos!

So original!

So original!

image_1

Love it!

Love it!

They write a message to their parents or siblings.

They write a message to their parents or siblings.

They seem enjoy it.

They seem enjoy it.

Next week kami akan membuat frame foto yang dihiasi mosaic dari CD.

0

ISA (International Schools’ Assessment)

Hello everyone..

Saya sedang di kelas ketika anak-anak istirahat setelah mengerjakan ISA. Jadi saya ingin cerita sedikit tentang tes ISA sejauh yang saya tahu. Mungkin ada yang bertanya bagaimana murid-murid di SD internasional dievaluasi, dengan label internasional pastinya aneh bila menggunakan sistem evaluasi UN (ujian nasional), dan bagaimana kita mengetahui kemampuan anak didik di SD internasional dibandingkan murid-murid di sekolah internasional lainnya. Jawabanya adalah ISA, ISA adalah sistem evaluasi untuk anak-anak sekolah internasional. Tes ini dipakai oleh murid kelas 3-10. Nantinya anak-anak akan diberi raport hasil ISA yang mana orang tua bisa tau nilai anak dan membandingkannya dengan nilai rata-rata seluruh hasil tes ISA sekolah internasional yang mengikuti tes ini. Untuk tahu lebih jelasnya silakan baca di http://www.acer.edu.au/isa.

Murid-murid kami melangsungkan tes ISA tanggal 10 dan 12 Februari 2015. Tes ini berupa tes menulis, literasi matematika, literasi IPA dan membaca. Tes ini tidak wajib, beberapa anak tidak mengikuti dengan berbagai alasan, ada yang belum sanggup alias terlalu sulit, ada juga yang merasa tidak memerlukan tes ISA karena akan melanjutkan ke sekolah nasional. Sama halnya dengan UN, murid-murid kami tidak wajib mengikuti UN, hanya beberapa anak yang ingin melanjutkan sekolah di sekolah nasional, itupun mereka disarankan mengikuti pelajaran tambahan tentang materi UN di luar jam sekolah.

Saya tidak bisa memberi foto kali ini atau contoh soal ISA, karena tes tersebut sangat rahasia dan tidak boleh dipublikasikan. Hehe..Oke. sampai jumpa lagi

Cheers

0

Manajemen Kelas

Swadikha…

Setelah membaca definisi Class management dari banyak sumber, menurut saya Manajemen kelas adalah cara guru mengatur materi pembelajaran, waktu, dan tingkah laku anak di dalam kelas agar kegiatan pembelajaran berjalan lancar, efektif dan sesuai tujuan pembelajaran. Masih saya ingat bagaimana manajemen kelas guru SD saya. Salah satunya ketika murid tidak mengerjakan PR. Sebagai hukumannya, kami harus menulis di buku yang menyatakan bahwa kami tidak mengerjakan PR, lalu kami harus mintakan tanda tangan orang tua kami. Biasanya saya tidak mengerjakan PR karena lupa. hehe. Saya termasuk anak yang rajin dan suka sekolah. Anyway, menurut saya, hukuman yang guru saya berikan itu cukup bagus karena orang tua bisa ikut mengingatkan anak untuk mengerjakan PR. Tapi sayangnya, sebagian anak mengakalinya. Beberapa teman-teman nakal saya mencoba memalsukan tanda tangan orang tua. Sebagian dari mereka ketahuan tapi beberapa kali lolos dari penglihatan guru. what a shame!

Contoh lain ketika pelajaran di sekolah sangat membosankan. Anak-anak pasti mengantuk, mengusir kebosanan dengan mengobrol dengan teman atau bertingkah usil contohnya surat-suratan dengan teman di bangku lain atau menjahili teman. Apa yang guru saya dulu biasa lakukan? berteriak, melempar kapur, memukul meja bahkan pernah teman saya dipanggil lalu dipukul atau dijewer kupingnya. Akhirnya anak memang diam dan tidak berulah, ya berhasil membuat kelas tenang. Tapi apa materi pelajaran bisa anak pahami dengan mudah? Yang ada, anak menjadi tegang dan takut tiap kali guru tersebut mengajar. Berulahnya anak dalam kegiatan pembelajaran tentu berhubungan dengan cara guru mengajar. Bila guru bisa menarik minat anak dalam pembelajaran, pasti mereka mengikuti perintah guru tanpa guru menegur mereka dengan keras atau nada suara tinggi. Ikuti minat mereka terlebih dahulu, hubungkan minat mereka dengan materi yang akan kita ajarkan baru setelah itu, mereka lebih mudah mengikuti pembelajaran yang kita berikan tanpa merasa terpaksa apalagi takut.

Guru-guru saya dulu memang sedikit anarki dan sarkastik. Bahkan ketika saya tidak masuk sekolah karena urusan keluarga, saya ditegur dengan kata-kata yang bagi saya tidak enak. Di sekolah kami, mau bolos 2 minggu pun juga guru tidak peduli, apalagi karena urusan keluarga dimana keputusan tidak masuk sekolah adalah keputusan orang tua. Hmmm….gemes juga kalau ingat masa-masa SD saya. Isinya bully dan pilih kasih. Guru dengan murid sebanyak lebih dari 40 anak di kelas tentunya hanya ingat anak-anak tertentu, misalnya yang paling pintar, yang nakal, yang paling ganteng dan cantik, yang kaya, dan yang paling bodoh saja. Anak yang sedang-sedang saja mungkin lebih sering terlupakan.

Guru-guru jaman sekarang semestinya punya cara yang lebih baik untuk mengatur kelas salah satunya dalam memberi anak konsekuensi. Penting untuk menekankan peraturan kelas dan memberi penjelasan mengapa semua harus menaati aturan yang ada agar jalannya proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif dan tepat waktu sesuai tujuan. Ada banyak ilmu yang dibagikan oleh guru-guru di seluruh dunia melalui blog mereka. Simply google it, teachers.

sebagian besar memang dalam bahasa inggris. hehe.

sebagian besar memang dalam bahasa inggris. hehe.

Ya memang sebagian besar resourches ada dalam bahasa inggris tapi tenang, google kan bisa bahasa indonesia juga.

Di sekolah kami, semua kelas punya 1 manajemen kelas yang sama walau tetap disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak. Anak-anak tahu konsekuensi dari kartu dalam 4 warna yaitu hijau, kuning, oranye dan merah.

Hijau     : baik-baik saja
Kuning  : peringatan pertama, bila sikap membaik maka kartu menjadi hijau lagi
Oranye : peringatan ke dua, harus tinggal di kelas saat istirahat snack
Merah   : peringatan terakhir, harus menemui kepala sekolah

Tiap anak punya 4 kartu. Jadi kalau berulah, guru tinggal bilang “flip your card into yellow!” Konsekuensi tiap warna kartu bisa berubah, terserah guru ingin memberi konsekuensi apa. Yang penting harus jelas dan masuk akal bagi anak. Kalau untuk masalah PR, anak yang tidak mengerjakan PR tinggal dipanggil dan disuruh menyelesaikan PR di kelas ketika jam istirahat.

Ada lagi manajemen kelas yang kami pakai yaitu 5 aturan di kelas.
1. Angkat tangan bila ingin berbicara atau meminta ijin
2. Menghormati semua anggota di kelas
3. Merawat dan menjaga peralatan dari sekolah
4. Melakukan yang terbaik
5. Menjaga kebersihan kelas

Peraturan memang perlu dipajang supaya anak-anak selalu ingat. Ini saya sendiri yang buat. So easy, teachers.

Peraturan/expektasi  di kelas kami pajang di sebelah papan tulis.

Peraturan/expektasi di kelas kami pajang di sebelah papan tulis.

Oh iya, memang membuat display itu memakan waktu dan biaya juga. Di sekolah kami, tiap kelas mendapat budget kelas yang berasal dari setiap anak. Tiap anak mendapat budget kelas selama setahun sebesar Rp 500.000/anak. Ya, biaya sekolah di SD kami memang sangat mahal. Tapi pasti ada cara guru untuk bisa membuat display. Tak perlu mahal, yang penting kreatif dan menonjolkan hasil karya anak.

Kembali lagi ke class management, kita mendorong anak untuk selalu menghormati guru, domestic staff dan teman-teman mereka. Magic words yang selalu kami ingatkan yaitu please, thank you, excuse me dan sorry atau dalam bahasa indonesia tolong, terima kasih, permisi dan maaf. Anak sering lupa memakai kata-kata tersebut, untuk itu kita perlu sering mengingatkan dan menggunakannya sebagai model. Mengingatkan anak untuk selalu sopan sangatlah penting demi pembentukan karakter anak yang baik apalagi dalam penggunaan K13 yang telah menambahkan pendidikan karakter dalam kurikulum. Memang tidak mudah memahami setiap anak lebih dalam bila hanya 1 guru kelas dan lebih dari 30 anak dalam kelas. Di kelas kami hanya ada 15-22 anak per kelas dan 2-3 guru dalam kelas.

Tugas guru di negara kita ini lebih berat dalam hal administrasi dan birokrasi. Guru dibuat sibuk dan lelah sehingga pada akhirnya rencana mengajar yang mereka buat tidak terlaksana seperti mereka susun dalam RPP yang mereka buat, entah itu rencana harian, mingguan atau bahkan tahunan yang mana harus mendapat persetujuan kepala sekolah dan direvisi bila masih dianggap salah. Akhirnya guru memilih dan terbiasa menggunakan buku yang sudah tersedia di pasaran atau cuma mengacu pada buku dari pemerintah yang mana tidak membuat guru kreatif dan memilih cara praktis ini, belum termasuk UN yang membuat guru dan murid tambah kurang kreatif di mana kemampuan hafalan adalah kunci akhir yang murid miliki untuk melewati UN. Itu pendapat saya, mohon dikoreksi.

Bapak ibu guru, alangkah baiknya bila kita tidak terpaku pada penggunaan 1 textbook saja, bukan berarti anak-anak diminta sebanyak yang guru pakai. Coba gunakan media tambahan selain buku, karena jujur saya sendiri pun bosan bila hanya belajar lewat buku.

Pekerjaan saya setelah selesai di sekolah adalah tutoring. Murid saya ada yang dari sekolah negeri dan swasta. Murid les saya sekolah di sekolah swasta yang cukup mahal dan terkenal di kota saya. Tetapi tetap sistem evaluasi mereka sama yaitu hafalan. Setiap kali akan ulangan, orang tua meminta saya untuk drill mereka dengan soal-soal yang ada di buku bahkan mengulang soal-soal yang menjadi pretest. Untuk di sekolah S, sudah lebih baik model evaluasinya karena K13 yang mana multiple choice test sudah dihapus dan soal lebih banyak di essay, itu cukup mengembangkan kreatifitas anak dalam menggunakan bahasa mereka sendiri. Mengevaluasi anak atau assessing, tidak harus formal tertuang di atas kertas, assessing kids can be done through games. So many classroom games we can use to know how deep the kids understand the material. Pernah dengar Cooperative Learning method? Banyak metode dalam cooperative learning yang bisa guru pakai untuk mengetahui seberapa dalam pemahaman anak atau bagian mana yang perlu diulang sebelum memberi anak tes tertulis.

Beberapa materi dalam pelajaran sekolah bisa kita dapatkan dari video, artikel dan gambar di internet, bahkan ada quiz generator, dimana guru bisa membuat soal interaktif (kapan-kapan saya bagikan pengalaman penggunaan aplikasi untuk membuat kuis atau tes). Ya memang kebanyak dari aplikasi tersebut menggunakan bahasa inggris. Salah satu impian saya adalah membuat aplikasi semacam itu dalam bahasa indonesia (mestinya saya kembangkan skripsi saya tentang developing interactive multimedia for teaching, sayangnya teramat sulit bagi saya untuk belajar coding). Penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut memang sebagian besar perlu koneksi internet. Beruntung di sekolah kami ada wifi juga LCD dan laptop di setiap kelas. Kalaupun tidak ada wifi di sekolah, bisa lah pakai modem pribadi, yang murah saja. Memang butuh biaya tapi tidak perlu banyak, apalagi bagi guru-guru sertifikasi yang saya dengar gajinya 2-3x gaji guru non sertifikasi. Sedekahkan sebagian gaji anda untuk membeli LCD dan laptop untuk membuat bahan ajar yang kreatif dan menyenangkan, sungguh anak-anak negeri ini butuh metode pengajaran yang lebih baik. Kita masih tertinggal jauuuhhh sekali dibandingkan dengan negara-negara asing bahkan negara tetangga kita, si M, mungkin memang butuh waktu yang tidak sebentar tapi dengan adanya guru-guru muda, semoga tidak malas berinovasi karena yang tua belum tentu selalu benar. Menjadi berbeda memang sulit tapi berbeda tidak selalu buruk.

Sampai di sini dulu, kapan-kapan saya sambung lagi.

Cheers

0

My Class

Hi there,

Kelas Bali, kelas yang membuat saya jatuh hati pada anak-anak. Pertama kali dites microteaching di kelas ini, saya takjub dengan anak-anak yang diam namun aktif mencoba menjawab tanpa keributan. Mereka tunjuk jari atau angkat tangan sampai guru memilih salah satu dari mereka untuk menjawab. Waktu itu materi yang saya gunakan adalah IPA, bab Material atau bahan baku kalau saya mengartikan. Saya bagi mereka menjadi 3 kelompok. Lalu mereka tempel gambar yang saya berikan dan memberi label pada tiap gambar. Sayang saya tidak foto. Akhirnya saya diterima dan mulailah pekerjaan yang serasa hobi di kelas itu. Anak-anak sangat menyayangi dan mengagumi saya. Mereka suka “gelendotan” dan “nggumunan”. Saya yang tadinya tidak peduli dengan penampilan menjadi ingin berubah dan mulai memakai parfum. Yuck! Saya suka bau saya sendiri, bau asem. Hahaha. Ya mau tidak mau saya pakai parfum. Dari yang perempuan sampai yang laki-laki, mereka suka gelendotan. Sampai guru kelas londo heran melihatnya karena di negaranya, memegang anak banyak aturannya dan diatur dalam hukum yang ada. Ya, ada dua guru dalam satu kelas, guru lokal dan guru expat. Guru expat kelas saya berasal dari Australia. Orangnya sangat baik bahkan menurut saya dia yang terbaik di antara guru expat lainnya. Kami sudah seperti sahabat, bahkan saling mengenal keluarga masing-masing. Dia wanita yang cantik hatinya.

Satu tahun mengajar di kelas ini tahun ajar 2013-2014 adalah tahun yang paling menarik. Selain menjadi tahun pertama saya dalam mengajar, saya juga menemukan pengalaman yang menarik dengan anak-anak. Ada yang bully, ada juga yang menjadi favorit saya. Favoritism memang tidak baik tapi saya buat pengecualian pada diri saya sendiri pada tahun itu. Hehehe..kan guru baru. Ada satu anak favorit saya. Dia anak baru, datang dari Amerika tepatnya New York. Hari-hari saya serasa berwarna dan penuh tawa. Tiap pagi selalu semangat untuk ke sekolah karena ingin melihatnya. T, anak laki-laki hyperactive dan mengidap ADHD alias susah konsentrasi. Tapi bukan berarti dia bodoh. Layaknya jalan, lalu lintas di otaknya sangat cepat. Sekali ada celah untuk dilewati sampailah dia dengan cepat. Maksud saya, sekali anak itu paham dia sangat cepat mengerjakan sesuatu sampai selesai. Dia paling pintar dalam berbicara dan menulis cerita, Amerika banget deh… Sudah terbiasa berbicara di depan orang banyak. T anak yang sangat lucu, cerewet, dan pastinya ganteng bangeet…I hope my son is just as cute as him. Hihihi… Rambut afro halusnya yang membuat saya tambah kangen dan suka elus kepalanya. Bahkan hampir setiap hari saya foto dan rekam kelucuannya.

Here is my lovely sun:

My lovely little sun ... thank Allah for having him at that moment

My lovely little sun … thank Allah for having him at that moment

Salah satu kegiatan di kelas yang memanfaatkan teknologi.

teknologi dalam pembelajaran anak SD sangat bermanfaat & menyenangkan

teknologi dalam pembelajaran anak SD sangat bermanfaat & menyenangkan

Seni rupa alias art

painting with my little stars

painting with my little stars

Dalam keceriaan bersama T dan teman-teman ada penyeimbangnya yang pasti tidak enak. Walaupun Cuma satu anak, dia si bully memang sangat mengganggu kelas. Tapi bukan salah si anak seutuhnya karena dia korban broken home. Saya tidak mau menceritakan yang ini karena terlalu buruk untuk diceritakan.

Baiklah, sampai di sini dulu cerita saya tentang kelas Bali. Sejauh ini saya merasa sangat cocok bekerja dengan anak-anak usia 8-9 tahun. Sampai jumpa.

Cheers