0

IPC Summer School 2014 (3)

Hallo,

Di hari Jumat yang mendung dan super basah ini alias banjir, saya memilih menyibukkan diri dengan menulis blog. Hehehe. Cucian mah nanti aja.

Okay, IPC summer school di Malaysia pada hari ke tiga saya awali dengan datang terlambat ke tempat training karena salah lihat jam. Mestinya saya lihat jam di jam tangan yang sudah saya atur, bukannya jam yang ada di HP saya. Pagi itu teman saya sudah ketok pintu berkali-kali tapi sepertinya saya sedang mandi jadi tidak tahu dan dia pun meninggalkan saya. Teman saya yang satunya tidak ikut training hari itu karena beliau harus pulang, maklum ibu beranak 3. Saya check out, pesan taxi dan langsung ke tempat training, Nexus International School. Dari tempat penginapan di KL sampai ke Putrajaya memakan waktu sekitar 25 menit dengan taxi. Taxi di sana sangat mahal, waktu itu saya mesti bayar 80RM atau sekitar Rp 250.000. Di mobil, mas sopir yang menurut saya keturunan india ini cukup banyak bicara dan bertanya dalam bahasa melayu (“cekgu, nak cakap bahasa melayu boleh?”). Sebenarnya saya agak merasa horor kalau naik taxi sendiri (kan saya princessnya papah, cin. Ntar kalau diculik gimana. XD). Lalu sampailah saya di sekolah Nexus dengan membawa koper besar menuju lantai 3, Alhamdulillah ada lift. Di hari ke 3 saya belajar tentang assessing bersama teman bule saya, ibu El. Training hari itu diberikan oleh Bapak Thomas Waldron (guru kelas 1 SD dan IPC coordinator di Beacon Academy, Jakarta) dan pak Neil Corrigan (guru kelas 6 di Jumeriah Primary School, Dubai). Gaya bicara mereka sangat berbeda, pak Thomas lemah lembut dan mudah dipahami sedangkan pak Neil cepat dan sangat bersemangat, yang menurut saya membuat saya semangat juga. Sebelum pak Neil mulai materi, beliau memberi kami ice breaker.

Bapak ibu guru, ada berbagai macam icebreaker yang bisa bapak ibu dapat dengan mudah di internet. Menurut saya, Icebreaker sangat bermanfaat untuk memulai pelajaran dengan anak-anak, terutama kelas baru. Anak-anak bisa lebih ceria sehingga mereka tidak terlalu tegang di kelas dan pelajaran pun lebih mudah dicerna oleh anak-anak. Mungkin link ini bisa memberi bapak ibu ide tentang icebreaker yang cocok untuk anak. Icebreaker juga bisa disisipi sedikit materi pelajaran sehingga anak bisa brainstorm dan lebih siap menerima pelajaran.

http://www.icebreakers.ws/classroom-icebreakers

http://www.educationworld.com/back_to_school/

Kembali ke training, pak Neil meminta kami untuk berdiri dan membentuk grup dari 3 orang, lalu kami diminta mencari persamaan diantara kami bertiga. Di grup saya, kami sama-sama suka olahraga. Lalu, kami diminta untuk membuat grup lagi dengan orang yang berbeda dan melakukan hal yang sama, mencari persamaan. Pak Neil bilang, melalui kegiatan itu kita tahu bahwa kita tetap punya kesamaan walaupun datang dari mancanegara.

Pak Neil membawa buku-buku murid beliau dan beberapa display kelasnya. Cara menilai hasil kerja anak pada IPC jelas berbeda dengan kurikulum kita dimana skor/angka adalah segalanya. Di IPC, anak bisa mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri dengan menggunakan rubrik anak, lalu guru memberi penilaian dengan rubrik guru. Tentunya penggunaan bahasa di kedua rubrik tersebut berbeda, pada rubrik anak bahasanya lebih ringan dan mudah dipahami. Berikut ini beberapa contoh yang dibawa pak Neil.

(nyusul, lagi dicari)

Training hari itu kalau tidak salah selesai jam 3. Saya dan banyak anggota training lainnya menunggu taxi menuju destinasi masing-masing. Taxi di Malaysia sangat berbeda sistemnya dengan taxi di negara kita. Di sana, taxi hanya melayani area mereka sendiri. Saya minta diantar ke KL Sentral di KL tapi si sopir menolak alasannya itu bukan rutenya dan terlalu jauh. Akhirnya saya minta diantar di stasiun KTM terdekat. Di sana saya naik train (mereka sebut itu untuk kereta, dan kereta adalah sebutan untuk mobil) menuju KL Sentral, dimana saya akan naik kereta menuju Singapura jam 10 malam. Sampai di KL sentral jam 5 sore. Saya memutuskan untuk tetap di stasiun. Tukar uang SGD, makan, keliling tidak jelas di kios-kios oleh-oleh dan nongkrong di mushola yang penuh sampai isya.
Saya mampir dulu di kios ini, Laparrr…

Salah satu warung di stasiun

Salah satu warung di stasiun

Lumayan enak dan cocok di lidah saya.

Nasi, telur, kari, sambal dan kacang

Nasi, telur, kari, sambal dan kacang

Setelah itu saya ke lantai 2 (kayaknya sih) dan menunggu kereta sambil baca buku yang sudah hampir habis saya baca. Lain kali mungkin saya perlu bawa buku 2. Tiket kereta sudah dibelikan bu expat saya yang baik, bahkan hal-hal di Singapura sudah dipesankan dan dibiayai. OmA, baik banget deh pokoknya, Alhamdulillah. Finally, Heading to Singapore.

Baiklah, lain kali saya update tulisan saya karena tidak semua tersampaikan. Perjalanan saya di Singapura akan saya rangkum di artikel selanjutnya. See you…

0

IPC Summer School 2014 (2)

Hello everyone!

Di hari Minggu yang cerah panas ini saya sengaja tidak tidur siang seperti yang saya biasa lakukan di akhir pekan karena saya ingin tidur malam lebih awal dan bangun malam. Oleh karena itu saya putuskan untuk melanjutkan tulisan saya tentang IPC training (2).

Okay, now what I can tell here. Di hari ke dua, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat sekolah Nexus yang dipandu oleh anak-anak kelas 6. Kami diperbolehkan masuk ke kelas-kelas di mana saat itu sedang ada kegiatan pembelajaran. Sekolah ini memang luar biasa besarnya dan mewahnya. Banyak sekali fasilitasnya. Bahkan lapangan sepak bola yang luas bangeettt… Kolam renang, lapangan tenis, lapangan indoor, bahkan mereka punya ruang untuk green screen. Banyak sekali. Penggunaan IPC di sekolah ini pun sudah sampai level mastery di mana kinerja guru-guru di sana mungkin sudah 3x kinerja kami. Anak-anaknya sangat percaya diri dan tenang juga pandai menjelaskan kegiatan bahkan unit yang sedang dilaksanan oleh kelas-kelas yang kami kunjungi saat itu. Mereka juga bisa menjelaskan display boards yang terpampang di tembok-tembok sekolah.

Kolam renang Nexus

Kolam renang Nexus

Kantin sekolah, aslinya lebih besar

Kantin sekolah, aslinya lebih besar

IMG_0158

Salah satu hal yang paling saya sukai pada IPC adalah display. Sangat penting memajang hasil karya murid-murid kita. Mereka jadi merasa bangga dan senang karena karya mereka dipertontonkan. tentunya itu juga memacu mereka untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Bukan hanya itu, dengan memajang hasil karya anak, murid-murid yang lain pun akan termotivasi dan mendapatkan ilmu sekilas dari karya-karya tersebut.

lukisan di tembok Nexus International school

lukisan di tembok Nexus International school

Display bisa berupa foto kegiatan anak-anak. Lalu dihias oleh guru. Ada efek 3D di sini. Cool, right?!

Display bisa berupa foto kegiatan anak-anak. Lalu dihias oleh guru. Ada efek 3D di sini. Cool, right?!

Salah satu display ekskul

Salah satu display ekskul

Kapan-kapan akan saya upload foto-foto display yang lain untuk inspirasi bapak ibu guru. 😉

Hari ke dua training IPC selesai pada pukul 3 sore waktu setempat. Di Malaysia 1 jam lebih cepat. Selesai training kami diajak ke hotel untuk acara ramah tamah. Kalau tidak salah namanya Skyline bar. Di sana disuguhi makanan yang rasanya asyik dan unik. Seperti biasa para bule disuguhi anggur dan bir.

cola dan makanan macem sushi dll yang datang bertubi-tubi sampai kenyang

cola dan makanan macem sushi dll yang datang bertubi-tubi sampai kenyang

Saya cukup jus jeruk dan cola. Di sana teman saya bertemu stranger yang punya tato Maori di tangannya, mulailah kami ngobrol dengan si bapak ganteng yang lucu abis. Saya tidak mengajaknya ngobrol sih, cuma nonton lawakannya saja. Dari jendela yang besar bar, kita bisa melihat Malaysia twin towers dengan jelas. Guru-guru yang dari Yogya sibuk foto-foto. Tapi saya malas dan tidak tertarik. Entah kenapa saya benar-benar tidak tertarik dan tidak memanfaatkan kesempatan di Malaysia. Haha. Saya cuma menikmati hal-hal baru yang saya temui di sana, cukup kagum dengan pencapaian Malaysia yang mana membuat saya melas dengan negara sendiri. Rasanya ingin ajak guru-guru Indonesia ke sana dan training untuk jadi guru yang less boring.

Setelah selesai dari acara ramah tamah. Kami bertiga naik taxi menuju Chinatown. I know, it’s everywhere and you’ll find the same Chinese stuffs just like in here. Meskipun begitu, saya tetap suka jalan-jalan dan mencari cinderamata dari malaysia. Yang murah aja yah, seperti kaos untuk adik-adik saya dan gantungan kunci. Cukup! Saya mesti hemat karena saya masih akan mengunjungi Singapura setelah itu.

Okay deh, itu dulu yang bisa saya bagikan. Maaf kalau cuma sedikit informasi dan sisanya cuma curhat. Hehehe

Cheers

0

IPC Summer School 2014 (1)

Hai semua,

Selamat datang di blog saya. Saya, kali ini ingin berbagi cerita tentang kesempatan yang sekolah berikan kepada saya pada bulan Maret 2014. Di mana kesempatan itu datang di bulan Februari. Bulan yang cukup berat bagi saya saat itu karena di bulan itu untuk pertama kalinya saya berpisah dengan sahabat saya, Boglenk Heni, untuk bekerja di Batam selama dua tahun. Mimpi-mimpi kami untuk jalan-jalan keluar negeri saat itu langsung tak tampak lagi. Mengapa dia begitu spesial. Dia perempuan tomboy satu-satunya yang membuat saya mengenal dunia sejak kelas dua SMA. Hahaha…lebay banget cyiin. Tapi memang cuma dia yang bikin saya secara tidak sadar menunjukkan wujud asli saya yaitu dari miss kalem pendiam menjadi miss cerewet dan pencilakan. Tapi, Allah punya rencana yang lebih indah dengan datangnya kesempatan ini, saya dan sohib bisa berjumpa di luar negeri, cuma Singapura sih tapi Alhamdulillah.

Hari itu kalau tidak salah hari Selasa, kepala sekolah datang menemui saya di kelas dan menawari saya untuk mengikuti training IPC di Malaysia tanggal 5 maret 2014. Ingin tahu lebih tentang IPC? Silakan kunjungi

http://www.greatlearning.com
dan ini link training saya
http://www.greatlearning.com/info/southeast-asia-summer-school-2014/

Tentu saya jawab saya bersedia. Lalu mulailah saya membuat passport, ijin meniggalkan kelas plus mendadak meriang. Jadi saya meninggalkan anak-anak 2 hari. Guru expat sering mengirim foto anak-anak dan video mereka. Katanya, mereka kangen dan minta direkam terus dikirim ke whatsup. Sungguh mengharukan mengetahui mereka merindukan saya, padahal saya lebih kangen mereka. Ketika meriang di hari pengambilan passport, yang rencananya ijin setengah hari, saya terpaksa langsung pulang dan ijin istirahat di rumah. Anak-anak pun berulah minta di foto macam ini:

kids' attention

kids’ attention

Begitu juga video dan masih banyak foto dan cerita tentang T dan kawan-kawan.

Selesai passport dibuat, mulailah booking ini itu untuk tanggal 4-9. Saya berangkat dengan 2 guru expat menggunakan pesawat maskapai G dari Semarang – Jakarta – Kuala Lumpur. Berangkat dari sekolah jam 12 siang, meninggalkan anak-anak yang mengeluh “now everything will be different without Ms. Sari”, cukup berat tapi ini tugas untuk menjadikan guru yang lebih baik. Mereka beri saya surat, begitu juga bu expat saya yang baik, membawakan 3 coklat Delfi buat ngemil di pesawat.

Beberapa foto surat yang anak-anak dan bu expat buat untuk saya:

Dibuat oleh Nic

Dibuat oleh Nic

Surat dari anak-anak dan Gambar anak di kursi roda itu kapan-kapan saya ceritakan.

Surat dari anak-anak dan Gambar anak di kursi roda itu kapan-kapan saya ceritakan.

Welcome to KL

Welcome to KL

Sesampainya di KL, kami bertiga naik taxi menuju tempat penginapan yang sudah dipesankan. Di sana sambutannya bagi kami bikin ngekek sebel. Pertama diminta deposit yang mana kami tidak tahu hal itu sebelumnya. Ke dua, mbak resepsionis mukanya berubah jadi jutek dan menelepon bosnya dengan bahasa tiongkok. Ke tiga, ketika teman saya bertanya apakah kami dapat sarapan, dia menjawab tidak, the room is fully furnished. Teman saya menjawab, oh itu sangat membantu (sarcastic). Hahaha. Saya lupa nama hotelnya. Bentuknya sebenarnya seperti apartemen karena ada dapur lengkap dengan peralatan masak, tempat meeting, kamar, kamar mandi dan ruang tamu beserta sofa juga Plasma TV. Bagi saya sangat nyaman dan betah. Saya tidak tertarik jalan-jalan karena capek dan jauh dari tempat wisata. Kemana-mana mesti pakai taxi yang harganya juga amit-amit.

Melepas penat training dengan ngemil dan nonton acara TV Malaysia

Melepas penat training dengan ngemil dan nonton acara TV Malaysia

Training cuma selama 3 hari tapi saya mampir Singapura dan pulang hari Minggu tgl 9 Maret 2014. Sebenarnya training ini lebih cocok untuk guru expat karena mereka yang bertugas mengajar IPC. Tetapi, sekali lagi saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekolah ingin saya mendapat training IPC. Saya disarankan kepala sekolah untuk mengikuti kelas:
http://www.greatlearning.com/info/southeast-asia-summer-school-2014/beginner-courses
dan
http://www.greatlearning.com/info/southeast-asia-summer-school-2014/developing-courses

Hari pertama, Rabu, 5 Maret 2014

Hari pertama, Rabu, 5 Maret 2014

Opening

Opening

Diskusi dengan guru-guru yang datang dari mancanegara. Bertemu 3 guru dari Yogyakarta juga. Maaf proyek Melodi ikut. Hehe

Diskusi dengan guru-guru yang datang dari mancanegara. Bertemu 3 guru dari Yogyakarta juga. Maaf proyek Melodi ikut. Hehe

Semua itu hal yang sangat baru bagi saya karena selama kuliah bahkan belum pernah mendengar apa itu IPC. Di sana saya layaknya mahasiswa baru yang dijejali materi baru oleh IPC trainers yang semuanya native english speakers dari jam 8 sampai jam 4 sore. Memang luar biasa para trainer ini sangat menguasai bidang mereka. Kepala saya terasa overloaded dengan semua itu. Tapi saya tetap berusaha mencerna materi para trainer ini karena sekolah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk kami bertiga. Biaya pendaftarannya saja US$ 700 per orang. Phew…sangat mahal. Tahun ini giliran bu expat saya yang berangkat, di bulan yang sama, Maret dan di tempat yang sama Nexus International School, Putrajaya.

Baiklah, mungkin cukup sampai di sini cerita saya untuk IPC training (1). Bersambung ya…

Cheers